MASIH ADAKAH KEJUJURAN DI DUNIA PENDIDIKAN KITA?

Berikut ini adalah sebuah artikel pendidikan yang menjadi tugas final dari mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan dengan dosen pembimbing Prof. Suparlan Suhartono.

MASIH ADAKAH KEJUJURAN DI DUNIA PENDIDIKAN KITA?

Oleh :

Khaerunnisaa

Ibarat lingkaran yang tidak memiliki ujung, itulah cerminan permasalahan pendidikan di Indonesia. Permasalahan seakan-akan enggan pergi dari dunia pendidikan kita. Belum selesai masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain. Bahkan terkadang terasa ada masalah yang dari dulu sampai sekarang belum dapat terpecahkan. Tak tanggung-tanggung, segala permasalahan yang ada sekarang ini telah menjakiti ketiga pusat pendidikan yang ada yakni keluarga, sekolah, dan masayarakat. Jadi tidak salah jika pendidikan kita saat ini disebut sedang “sakit”.

Dalam menyelesaikan tugas ini, penulis sempat kebingungan untuk memilih permasalahan mana yang akan diangkat. Bukan karena kekurangan permasalahan akan tetapi karena terlalu banyaknya permsalahan sehingga membuat penulis bingung memilih satu permasalahan di antara banyaknya permasalahan. Namun ada satu masalah yang menarik perhatian penulis yakni masalah nilai kejujuran dari pendidikan kita. Masih adakah nilai kejujuran itu?

Penulis tegerak mengangkat masalah ini setelah teringat akan Ujian Nasional yang akan diselenggerakan dalam waktu dekat ini. Sebagaimana yang kita ketahui dan bukan sebuah rahasia lagi jika pelaksanaan Ujian Nasional sarat akan kecurangan. Hal ini terbukti dari adanya kasus seorang siswa yang melaporkan peristiwa “ketidakjujuran” dan kasus “contek massal” yang mereka alami saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya beberapa waktu lalu.

Permasalahan di atas bukanlah persoalan baru di dunia pendidikan kita. Permasalahan tersebut telah berlangsung sejak lama dan telah mendarah daging mulai dari tingkat pendidikan yang paling dasar hingga yang tertinggi. Namun yang sangat disayangkan dan membuat penulis semakin sedih adalah permasalahan contek menyontek tersebut seakan-akan mendapatkan label “halal” dari pihak sekolah dan orang tua. Padahal secara sadar tidak sadar dari hal tersebut bibit-bibit koruptor dapat tercipta.

Idealnya, lembaga pendidikan yang bernama sekolah, seperti halnya rumah (keluarga) adalah sebuah lembaga yang menjadi basis untuk belajar kejujuran. Seperti kata orang bijak, kejujuran itu berangkat dari rumah dan sekolah. Mengapa demikian? Tentu saja, jawabannya karena seorang anak, belajar kejujuran yang pertama adalah dari kejujuran yang ada di dalam keluarga dan yang ada di sekolah.

Percaya atau tidak, bahwa dalam keluarga yang baik atau di sekolah yang baik, yang meletakkan basis pemahaman yang agamis, kita selalu saja diajarkan agar selalu bersikap jujur. Hidup dengan kejujuran selalu saja dijadikan sebagai sebuah jalan yang bisa mengantarkan kita pada keselamatan. Maka, sebagai perwujudan dari penanaman sikap jujur tersebut, seringkali kita mendengar anjuran atau pepatah-petatah seperti, “Jauhilah yang jahat, dan hiduplah dengan jujur. Janganlah sekali-kali menyimpang dari jalan yang benar”. Atau ada yang mengatakan seperti ini, “Jujur adalah pangkal kebahagiaan dan keselamatan”. Atau juga ada yang mengatakan bahwa, “Kalau ingin selamat berjalanlah di atas rel kejujuran”, dan sebagainya.

Intinya, anjuran berlaku jujur adalah anjuran yang banyak kita temukan dalam ajaran agama yang diwujudkan dalam berkehidupan sosial. Begitu pentingnya menjaga dan bersikap jujur dalam hidup ini. Oleh sebab itu, setiap anak di dalam keluarga dan bahkan dalam kurikulum pendidikan, diajarkan nilai-nilai kejujuran. Maka, harapan untuk menjadikan keluarga dan sekolah sebagai tempat belajar kejujuran menjadi semakin strategis. Namun, bila kita mencoba masuk ke dalam lembaga pendidikan yang bernama sekolah itu saat ini, apakah masih menemukan nilai dan prinsip kejujuran tersebut?

Mari kita amati satu persatu dan catat semua fenomena dan realitas yang sedang berkembang. Mungkin para guru dan praktisi pendidikan akan menemukan banyak catatan penting yang bisa mengarah pada pembenaran terhadap pernyataan bahwa saat ini kejujuran itu kian langka dan sulit ditemukan di sekolah.

Andai kita mau melihat dengan jernih. Kita akan bertanya, bagaimana kita bisa belajar kejujuran di sekolah, kalau saat ini sudah banyak guru yang dalam menjalankan tugas sudah tidak jujur. Misalnya, karena tuntutan dan dijejalkan dengan berbagai persyaratan dalam sistem kenaikan pangkat dan sertifikasi, tidak sedikit guru yang berbuat curang. Lalu, kalau kita ingin mengukur tingkat kejujuran seorang kepala sekolah, mungkin semakin banyak fakta ketidakjujuran itu kita jumpai.

Jabatan kepala sekolah sebagai jabatan yang boleh dikatakan jabatan yang tergolong “top karir” tersebut biasanya diperjuangkan dengan cara-cara yang sarat dengan ketidak jujuran. Bisa dengan memanfaatkan hubungan nepotisme, bisa dengan membayar sejumlah uang, bisa pula dengan berkolusi. Lalu, kejujuran apa yang bisa kita pelajari dari seorang pimpinan tertinggi di sekolah yang memperoleh jabatan secara tidak jujur?

Jangankan ketika telah menjadi guru atau kepala sekolah, ketika masih calon guru saja sudah sarat dengan ketidakjujuran. Hal ini dirasakan sendiri oleh penulis dimana mayoritas dari kalangan para mahasiswa-mahasiswi calon guru di kampus jingga ini ketika menghadapi ujian akan “menghalalkan” segala secara dalam mengahadapinya. Semua hal yang dilakukan para calon guru, guru, maupun kepala sekolah tersebut sangatlah tragis, menyedihkan, serta memalukan. Bagaimana mungkin seorang pendidik mampu melakukan hal-hal tersebut, padahal mereka sendiri yang berkoar-koar untuk selalu hidup jujur. Tong kosong nyaring bunyinya, mungkin itulah pepatah yang cocok untuk mereka para calon guru, guru, dan kepala sekolah “nakal”.

Permasalahan di atas terjadi karena sistem pendidikan kita saat ini hanya berorientasikan pada hasil semata. Mengapa penulis berkata demikian, lihatlah bagaimana nilai Ujian Nasional yang menjadi standar kelulusan. Siswa dapat dinyatakan lulus apabila telah memenuhi nilai minimal Ujian Nasional, tak peduli bagaimana hasil belajar siswa selama tiga tahun. Hasil akhir berupa Nilai Ujian Nasional menjadi harga mati bagi para siswa untuk bisa lulus namun tidak mengindahkan bagaimana cara mereka mendapatkan nilai itu. Setiap kali Ujian Nasional akan dilaksanakan, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja tersebar bocoran jawaban Ujian Nasional padahal Ujian Nasional sendiri belum dilaksanakan. Belum lagi masalah ketika ada guru yang dengan sengaja membantu siswanya agar bisa lulus dengan memberikan jawaban Ujian Nasional atau dengan cara mengubah jawaban siswa sebelum hasil Ujian Nasional itu dikirim. Selalu ada kecurangan setiap kali digelar Ujian Nasional, entah mengapa hal itu dapat terjadi? Namun seperti penulis katakan tadi, pendidikan kita tak peduli proses bagaimana mereka bisa mencapai hasil tapi lebih menyukai hasilnya. Pendidikan semacam ini sebenarnya secara tidak langsung mengajar pada siswa bahwa apapun caranya selama bisa mencapai hasil yang baik maka itu sah-sah saja. Jadi, jangan salahkan siswa yang ketika sudah besar mendadak jadi koruptor karena mereka “sukses” menimba ilmu tentang pendidikan hasil, apapun caranya yang penting bisa kaya.

Penyebab lain dari munculnya permasalahan di atas adalah karena pendidikan kita yang seakan-akan “mengharamkan” kegagalan. Lihatlah kembali ke kasus contek massal yang terjadi di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya. Karena hinanya kegagalan bagi SD di Surabaya tersebut, akhirnya dilakukanlah rekayasa pelaksanaan Ujian Nasional di sekolah mereka. Apa tujuannya? Supaya tidak ada yang gagal dalam ujian kelulusan. Atau ketika ada liputan berita kelulusan di televisi, lihatlah bagaimana reaksi siswa-siswi yang tidak lulus. Lihatlah betapa histerisnya mereka mengetahui bahwa mereka tidak lulus, seakan-akan hidup mereka berakhir karenanya. Pada kenyataannya, bahkan ada juga anak yang kemudian benar-benar mengakhiri hidupnya karena gagal. Ironis. Namun itulah kenyataan yang terjadi ketika kegagalan dianggap sebagai hal yang hina. Lalu benarkah kegagalan itu hina? Bagaimana sebaiknya kegagalan ditempatkan dalam proses belajar?

Kegagalan adalah satu hal yang lumrah, yang keberadaannya tidak perlu ditakuti apalagi dihinakan. Bahkan bagi banyak orang, kegagalan justru menjadi pondasi kokoh pembentuk bangunan kesuksesan. Oleh karena itu penulis sangat berharap bahwa mindset kegagalan dalam kaitannya dengan proses belajar ini tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu. Justru harus disikapi sebagai hal yang sangat penting, tidak hanya dalam perjalanan siswa menuntut ilmu, namun juga dalam perjalanan siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. Dari kegagalan mereka berusaha untuk menjadi lebih baik, untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang mereka perbuat.

Inilah yang penulis harapkan agar ditanamkan oleh para pendidik kepada siswa mereka. Apalagi bagi para pendidik yang selalu dan tak henti-hentinya mendoktrin siswa mereka akan nilai kejujuran. Karena kejujuran itu adalah suatu hal yang sangat manis, namun ia juga punya resiko akan konsekuensi pahit. Salah satu resiko tersebut adalah kegagalan itu sendiri.

Dengan demikian seharusnya orang-orang yang berkomitmen untuk hidup jujur juga harus siap menerima kegagalan. Dan guru-guru yang selama ini mengajarkan murid-muridnya untuk jujur juga harus bisa menerima bila suatu saat murid-murid yang mereka didik mengalami kegagalan sebagai resiko kejujuran itu tadi.

Dalam bahasa yang sedikit keras, bagi penulis “mengharamkan” kegagalan berarti juga “mengharamkan” kejujuran. Dan mungkin itulah yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita saat ini.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : http://www.catatankhaerunnisaa.wordpress.com

 Ingat etika dalam mengcopy ya :) selalu cantumkan sumber tempat anda mengcopy

Categories: cuap-cuap, the orange campus | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: