Dosen “Senior” vs Dosen “Muda”

 

“HENTIKAN DOSEN TUA. Dosen tua hanya akan menghambat laju pendidikan”.

Demikianlah tulisan yang tidak sengaja saya baca di salah satu kursi ketika mengikuti kuliah Pendidikan Kesehatan dan Gizi di HM 101 pada Senin, 08 Oktober 2012. Miris sekali rasanya. Selain itu, cukup membingungkan juga, kok bisa dosen tua menghambat laju pendidikan? Sepertinya orang yang menulis hal tersebut tidak berpikir terlebih dahulu sebelum menulisnya. Ada baiknya untuk selanjutnya, kata tua saya ganti dengan kata senior.

Saya rasa tidak ada dasar yang kuat sehingga dikatakan dosen senior menjadi penghambat laju pendidikan. Mungkin saja, orang yang menuliskan hal tersebut merasa bosan ketika mengikuti perkuliahan yang dibawakan oleh dosen senior sehingga dia berpikiran seperti itu. Memang sih, terkadang ada dosen senior yang ketika membawakan perkuliahan kurang begitu menarik, tidak interaktif, terlalu kaku dan lain sebagainya, sehingga suasana kelas menjadi membosankan dan mahasiswa menjadi tidak betah di kelas. Penyebabnya mungkin saja karena kurangnya media yang digunakan, terkadang dosen senior hanya mengandalkan buku saja lalu selanjutnya ceramah yang kaku. Selain itu, terkadang pula ada dosen senior yang ketika memberi kuliah seakan-akan beliau hanya berbicara sendiri tanpa memperhatikan mahasiswa dan mahasiswinya. Belum lagi suara yang monoton dan terkadang ada dosen senior yang ekspresinya datar-datar saja.

Berbeda dengan dosen muda yang ketika membawakan perkuliahan selain mengandalkan buku, terkadang menggunakan slide presentasi yang menarik. Selain itu, ketika memberikan kuliah terjadi komunikasi interaktif dan menyenangkan dengan para mahasiswa dan mahasiswi, mungkin karena perbedaan usia yang tidak terlalu jauh (jika dibandingkan dengan dosen senior) sehingga serasa berbicara dengan teman namun tetap pada koridornya yaitu antara dosen dan mahasiswa.

Terlepas dari semua hal di atas, ada beberapa hal yang patut ditiru oleh dosen muda dari dosen senior seperti dari pengalaman saya :
1. Dosen senior lebih tepat waktu dibanding dosen muda.
2. Dosen senior lebih bisa dipegang janji dan kata-katanya dibanding dosen muda.
3. Semangat dosen senior patut dicontohi. Rata-rata dosen senior yang pernah saya ikuti perkuliahannya, beliau-beliau hanya absen mengajar jika sakit.

Intinya, saya hanya ingin mengatakan setiap dosen memiliki kelebihan masing-masing. Kita tidak usah mempermasalahkan senior ataupun mudanya, yang terpenting adalah dalam mengikuti perkuliahan haruslah fokus agar ilmunya dapat kita serap dengan baik. Tips dari saya ketika mengikuti perkuliahan usahakan untuk selalu duduk di barisan terdepan karena akan membuat kita lebih fokus dibanding barisan belakang, apalagi jika kuliahnya agak membosankan, pantang untuk duduk di belakang karena akan berakibat fatal, trust in me Smile

Categories: cuap-cuap, kampus | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: