MEMBINGKAI PENDIDIKAN MENJADI SEBUAH SISTEM PENDIDIKAN TERPADU

Berikut ini adalah sebuah artikel pendidikan yang menjadi tugas final dari mata kuliah Filsafat Pendidikan dengan dosen pembimbing Prof. Suparlan Suhartono.

MEMBINGKAI PENDIDIKAN MENJADI SEBUAH SISTEM PENDIDIKAN TERPADU

Oleh :

Khaerunnisaa*

            Ketika seseorang mendengar kata pendidikan, maka yang terpikirkan oleh kebanyakan orang yaitu upaya memanusiakan manusia muda seperti yang diungkapkan Driyakarya atau seperti yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara yaitu daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan bathin dan karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dan masih banyak definisi lain mengenai pendidikan. Dari semua definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu hal yang sederhana. Pendidikan hanya menyangkut proses pembibitan, pertumbuhan, pengembangan, pembuahan, dan pemanfaatan. Dari semua proses tersebut, tidak ada yang menjadi satu-satunya yang terpenting atau yang menjadi kuncinya. Sebab, semua proses tersebut adalah sebuah sistem yang saling berhubungan satu sama lain.

Sekarang muncul sebuah pertanyaan besar, pendidikan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan sederhana seperti yang disebutkan di atas, lalu mengapa kualitas pendidikan kita masih rendah? Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun 2002 saja menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam (www.kompas.com). Selanjutnya, sebagaimana diberitakan Kompas (03/03/2011) halaman 12 pada kolom “Pendidikan & Kebudayaan”, berdasarkan data dalam Education for All (EFA) Global Monitroring Report 2011 yang dikeluarkan UNESCO dan diluncurkan di New York pada Senin, 01/03/2011, indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara yang disurvei. Tahun 2010 dengan ukuran yang sama, peringkat Indonesia berada pada urutan 65 dan banyak yang menyambut gembira karena media menulis ‘Peringkat Pendidikan Indonesia Naik’. Tahun 2011 kita kembali kecewa karena peringkat tersebut tidak bisa dipertahakankan apalagi diperbaiki. Lembaga yang selalu memonitor perkembangkan pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahun itu menempatkan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih baik daripada Filipina, Kamboja, dan Laos. Tetapi apa artinya dengan membandingkannya dengan tiga negara yang memang selama ini peringkatnya tidak pernah berada di atas Indoenesia, kecuali Filipina yang dalam beberapa hal lebih baik. Sementara Jepang berada pada urutan pertama sebagai bangsa dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Melihat fakta tersebut tentunya membuat kita merasa prihatin. Apalagi pendidikan merupakan pondasi pembangunan suatu bangsa, jika pendidikan tidak berjalan dengan semestinya maka pembangunan tidak akan terlaksana, atau bahkan dapat mengakibatkan krisis multidimensi yang berkepanjangan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan media pembangunan yang memiliki posisi strategis dalam mengintegrasikan dan mengatur sub-sub sistem dalam masyarakat.

Dari permasalahan di atas, yang menjadi akar permasalahan tersebut adalah tidak terpadunya sistem pendidikan kita. Sekarang yang terlihat seakan-akan bukan lagi tri pusat pendidikan melainkan lebih kepada eka pusat pendidikan yaitu hanya pada lingkungan sekolah saja.  Lingkungan keluarga yakni orang tua seakan-akan melimpahkan semua urusan mengenai pendidikan anaknya kepada sekolah. Lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi tempat untuk berkembangnya kecerdasan spritual anak mereka, malah melimpahkannya ke sekolah. Seakan-akan orang tua hanya tinggal menunggu hasil. Sementara di dalam lingkungan sekolah, guru pun seperti hanya seperti melepas tanggung jawab. Entah siswanya dapat memahami apa yang guru mereka sampaikan atau tidak, asalkan kewajiban mengajar telah dilaksanakan berarti mereka sudah menganggap bahwa mereka telah melaksanakan tugas mereka. Belum lagi kepala sekolah yang menjadikan pengembangan sekolah sebagai “proyek”, tidak menjadikan pengelolaan sumber daya sebagai prioritas bersama, dan melakukan supervisi yang tidak berkesinambungan, akhirnya menjadikan sekolah kehilangan identitas diri yang sebenarnya. Sementara di lingkungan masyarakat yang berkembang sekarang ini adalah “money oriented”, segalanya berorientasikan kepada materi.

Permasalahan-permasalahan tadi sebenarnya dapat teratasi jika tripusat pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat dibingkai dalam suatu sistem berkesinambungan terpadu, sebagai berikut :

1. Pendidikan Keluarga

Keluarga merupakan salah satu bagian dari tri pusat pendidikan dan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya. Dari interaksi tersebut, anak memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar daripada kepribadiannya. Juga dari situlah ia memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan, dan emosinya.

Sistem pendidikan di dalam keluarga sangat bergantung kepada kecenderungan yang kuat dari orang tua terhadap dunia pendidikan. Dalam hal ini, tingkat dan kualitas pendidikan orang tua menjadi penting dan menentukan. Kecenderungan kuat dan kualitas pendidikan orang tua tidak harus bergantung pada tinggi rendahnya pendidikan formal (sekolah) yang telah diraih, tetapi bergantung pada kualitas motivasinya. Idealnya memang tingkat pendidikan sekolah berbanding lurus dengan kualitasnya. Tingkat kualitas pendidikan orangtua dapat dilihat pada orientasi (filosofi) kehidupan keluarga, dan bagaimana konsekuensi mereka dalam menjalankan filosofi itu. Kedua titik itu harus saling bersesuaian.

Pada lingkungan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya adalah terhadap sistem kegiatan pendidikan untuk menumbuh kembangkan kecerdasan spritual. Kecerdasan ini berupa kesadaran tentang asal mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan dalam tata hubungan kausalistik.

Potensi kecerdasan spiritual akan terus tumbuh berkembang apabila terus dirawat. Perawatannya terletak pada seberapa jauh nilai tersebut mewarnai kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, nilai keindahan spiritual perlu dijabarkan ke dalam sehidupan sehari-hari oleh orang tua. Hakikat asal-mula dan tujuan kehidupan harus menjiwai, dan selanjutnya menjadi spirit setiap kegiatan kehidupan keluarga.

Tingkatan spiritual pada diri seseorang dapat berbeda-beda tergantung bagaimana pendekatan yang digunakan kepada anak. Pertama tingkatan spiritual yang hidup. Untuk mendapatkan tingkatan kecerdasan spiritual ini anak harus diajarkan mengenal Tuhannya, mengenal penciptanya melalui ciptaan-Nya. Hal-hal yang membuat anak terpesona kita bingkai dengan koridor mengenal Allah Subhana wa Ta’ala sebagai pencipta. Apabila anak sejak dini dikenalkan kepada Sang Penciptannya, maka secara perlahan kematangan spiritual akan tertanam pada diri anak.

Kedua, tingkatan spiritual yang sehat. Untuk mendapatakan tingkatan kecerdasan spiritual ini orangtua harus mengajarkan anak untuk melakukan komunikasi yang baik dengan pencipta, yaitu dengan melatih mengerjakan ibadah-ibadah wajib sejak usia dini, membiasakan diri untuk selalu mengingat nama-Nya dalam setiap kejadian yang ditemuinya. Misalnya kebiasaan mengucapkan bismillah ketika akan beraktifitas, mengucapkan insya Allah ketika sedang berjanji dengan orang lain.

Ketiga, tingkatan bahagia secara spiritual. Untuk mendapatkan ini anak sejak dini dilatih untuk mengerjakan ibadah-ibadah sunnah sebagai tambahan, merutinkan membaca Al-Qur’an, sholat malam dan lain sebagainya.

Keempat, damai secara spiritual, bentuk kecerdasan tingkatan ini dapat dilatih dengan mengajarkan kepada anak bahwa bentuk kecintaan yang ada di dunia ini tidak melebihi terhadap bentuk kecintaannya terhadap Allah Subhana wa Ta’ala.

Kelima, arif secara spiritual. Pada tingkatan ini seseorang akan membingkai segala aktivitasnya adalah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala, sehingga segalanya memiliki makna.

Berdasarkan penelitian, anak yang memiliki kecerdasan spiritualnya tinggi rasa ingin tahunya semakin besar, sehingga memiliki dorongan untuk selalu belajar serta memiliki kreativitas yang tinggi pula.

Kecerdasan spiritual dapat ditumbuhkan pada anak dengan cara membersihkan hatinya lebih dahulu. Dengan hati yang bersih maka aktivitas yang lainnya akan menjadi lebih mudah.

Sementara itu untuk mengoptimalkan kecerdasan spiritual pada anak dapat dilakukan dengan cara: pertama, mengenalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada anak-anak semenjak dini. Kenalkan melalui metode yang bersifat praktis dan mudah dipahami anak-anak. Satu di antara metode itu adalah dengan tanya jawab.
Pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb bisa pula melalui metode pengenalan dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.

Kedua, memberikan bantuan kepada anak untuk merumuskan tujuan hidupnya, baik tujuan hidup jangka pendek maupun tujuan hidup jangka panjang. Ketiga, sesering mungkin orangtua menceritakan kisah-kisah yang agung, kisah yang menarik, mengesankan, dan memberi banyak pelajaran seperti kisah para Nabi maupun kisah para sahabat.

Keempat, sering melibatkan anak dalam kegiatan ibadah, seperti dilatih sejak kecil untuk sholat berjamaah bagi anak laki- laki, selalu membaca do’a dan yang terpenting adalah pemaknaan dari kegiatan tersebut. Namun yang paling utama yaitu penanaman tauhid.

Orang-orang yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan meninggalkan bekas di hati orang lain, sebab orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi akan menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Orang yang cerdas secara spiritual tidak akan melakukan korupsi, penggelapan uang rakyat dan sebagainya, sebab dimanapun dia berada, orang yang cerdas secara spiritual akan merasa selalu diawasi Sang Pencipta, Allah Subhana wa Ta’ala.

2. Pendidikan Sekolah

Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya.

Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.

Perlu kiranya bagaimana lembaga pendikan sekolah mengelola sistem pembelajaran untuk membangun sumber daya manusia yang cerdas intelektual, ilmiah, yaitu ahli dalam bidangnya, cakap, terampil, mandiri, kreatif, berbudi pekerti luhur dan jujur atau adil dalam bersikap dan berperiaku. Untuk mencapai sasaran itu, sedikitnya dua hal yang harus dipersiapkan, yaitu materi pembelajaran dan pengelolaannya.

Pertama, materi pembelajaran perlu diorganisasikan dalam bentuk kurikulum, dan disusun secara berjenjang menurut sasaran-sasaran konkret. Pengorganisasian kurikulum disusun berdasar pada sistem penjenjangan pendidikan sekolah, yaitu pendidikan dasar (9 tahun), menengah (3 tahun) dan pendidikan tinggi (4 tahun). Untuk jenjang pendidikan dasar, organisasi kurikulum disusun dengan sasaran utama pembinaan keterampilan hidup (life skill).

Cakupan materi pembelajaran yang dominan pada muatan lokal merupakan intisari dari potensi lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam daerah setempat. Untuk jenjang pendidikan menengah, sasaran utamanya adalah pembinaan kecakapan hidup (life ability). Cakupan materi pembelajaran tetap dominan pada muatan lokal, tapi perlu diperluas. Sedangkan kurikulum pendidikan tinggi sasaran utamanya adalah pembinaan kecerdasan hidup (life educated). Cakupan materi pembelajaran dominan pada muatan nasional bahkan internasional.

Kedua, sistem administrasi dan supervisi pendidikan perlu dilaksanakan seoptimal mungkin. Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan yakni terselenggaranya sistem pendidikan yang efektifitas serta efisiensi. Hal tersebut dapat terwujud jika para administrator mampu menjalankan fungsi administrasi pendidikan dengan baik, seperti fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, dan pengawasan. Selanjutnya, peran supervisi di sini adalah agar pendidik mengetahui dengan jelas tujuan dari pekerjaannya dalam mendidik, mengenai apa yang hendak dicapai dari pelaksanaan pendidikan tersebut. Serta mengetahui pula fungsi dari pekerjaan yang pendidik lakukan. Ini tidak lain membantu pendidik agar lebih fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan dan menghindarkan dari pelaksanaan pendidikan yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan. Selain itu, agar guru mampu mengelola pembelajaran yang efektif, selaras dengan paradigma pembelajaran yang direkomendasiklan Unesco, “belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be)”.

Jika organisasi kurikulum dan sistem administrasi dan supervisi tersebut dapat diselenggarakan, diharapkan dapat dihasilkan luaran yang berkualitas dalam hal kecerdasan intelektual, kecerdasan sikap, dan kecerdasan perilakunya. Secara akumulatif, kualitas luaran dimaksud adalah pribadi terdidik yang cerdas, cakap, terampil, mandiri, dan memiliki daya kreativitas tinggi untuk pembaruan kehidupan masyarakatnya.

3. Pendidikan Masyarakat

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.

Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan. Di masyarakatlah anak melakukan pergaulan yang berlangsung secara informal baik dari para tokoh masyarakat, pejabat atau penguasa, para pemimpin agama dan sebagainya.

Masyarakat yang dimaksud adalah orangtua wali peserta didik, anggota keluarga yang lain atau semua orang yang tinggal disekitar lingkungan sekolah. Dalam konteks menyeluruh masyarakat merupakan tempat anak hidup dan belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya dan dalam konteks penyelenggaraan pendidikan itu sendiri besar sekali perannya.

Mohammad Noor Syam, dalam bukunya Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, mengemukakan bahwa hubungan masyarkaat dengan pendidikan sangat bersifat korelatif, bahkan seperti telur dengan ayam. Masyarakat maju karena pendidikan dan pendidikan yang maju hanya ditemukan dalam masyarakat yang maju pula.

Bagaimanapun kemajuan dan keberadaan suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat yang ada. Berikut ini adalah beberapa peran dari masyarakat terhadap pendidikan :

a)      Masyarkat berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah.

b)      Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.

c)      Masyarakatlah yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung meseum, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, kebun binatang dan sebagainya.

d)     Masyarakatlah yang meyediakan berbagai sumber untuk sekolah. Mereka dapat diundang ke sekolah untuk memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu masalah yang sedang dipelajari anak didik. Orang-orang yang mempunyai keahlian khusus banyak sekali di masyarakat, seperti petani, peternak, saudagar, polisi, dokter dan sebagainya.

e)      Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar. Disamping buku-buku pelajaran, masyarakat memberi bahan pelajaran yang banyak sekali, antara lain seperti aspek alami industri, perumahan, transportasi, perkebunan, petambangan dan sebagainya.

Selain itu, peran penting dari masyarakat itu sendiri adalah menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral menurut dasar nilai-nilai spritual dan intelektual yang sebelumnya telah ditumbuh kembangkan pada lingkungan keluarga dan sekolah.

Jadi, dapat kita tarik kesimpulan pendidikan yang sifatnya sederhana ini dapat berjalan sesuai dengan hakikatnya dan menjadi pondasi bagi suatu bangsa maka pendidikan haruslah dibingkai menjadi sistem yang berkesinambungan dan saling terpadu. Pendidikan yang terpadu tersebut hanya dapat terbentuk jika tri pusat pendidikan disinergikan dengan baik. Berawal dari keluarga yang wajib menanamkan nilai-nilai spritual, berlanjut ke sekolah yang wajib menumbuhkan nilai-nilai intelektual di atas nilai-nilai spritual yang telah ditumbuhkan oleh keluarga, dan beemuara pada masyarakat yang wajib menumbuhkan nilai-nilai moral menurut dasar nilai-nilai spritual dan nilai-nilai intelektual.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Pengaruh Timbal Balik Antara Orangtua, Sekolah dan Masyarakat. http://dikdasmenalmtq.wordpress.com/2011/11/02/pengaruh-timbal-balik-antara-orangtua-sekolah-dan-masyarakat/. Diakses pada 16 Januari 2012.

Mardiyono. 2011. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini. Banjarmasin : Banjarmasin Post.

Nurochmah, Andi. 2011. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Makassar : Administrasi Pendidikan FIP UNM.

Prasetyo, Arif. 2011. Supervisi Pendidikan. http://www.infodiknas.com/supervisi-pendidikan/. Diakses pada 16 Januari 2012.

Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan. Makassar : Badan Penerbit UNM.

*Saat ini mahasiswi Semester V Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : http://www.catatankhaerunnisaa.wordpress.com

 Ingat etika dalam mengcopy ya :) selalu cantumkan sumber tempat anda mengcopy

Categories: Filsafat Pendidikan, Semester 3, the orange campus | Tags: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: