Tugas Final IPS II

Berikut ini adalah tugas final mata kuliah IPS II dengan dosen pengampu  Widya Karmilasari Achmad, S.Pd., M.Pd.

TUGAS FINAL IPS II

Nama               :  Khaerunnisaa

NIM                 :  104 704 092

Kelas               :  A.5.4/Bilingual Class 2010

  1. Judul Berita     : Jelang Siang, Alauddin dan Antang Macet

                     URL : http://makassar.tribunnews.com/2012/01/14/jelang-siang-alauddin-dan-antang-macet

2.     Penulis                             : Edi Sumardi

3.    Isi Berita                      : Kemacetan yang terjadi di Jl. Sultan Alauddin dekat kampus UIN Alauddin hingga dekat kampus Universitas Muhammadiyah Makassar dan Jl. Antang Raya, Makassar, Sabtu (14/1/2012). Kemacetan tersebut terjadi sejak pagi hari hingga menjelang siang hari.

4.      Sumber                            : www.makassar.tribunnews.com               

      5. Sasaran Pembaca               :  Warga Makassar

6.      Dampak dari Kemacetan  : Akibat macet, semua orang menjadi terganggu perjalanannya. Seharusnya perjalanan dapat ditempuh dengan waktu yang singkat, malah menjadi sangat lama karena macet yang membuang waktu begitu saja. Bukan hanya itu, macet akan membuang bahan bakar secara percuma dan itu adalah salah satu pemborosan bahan bakar, polutan-polutan yang tak terkendali sehingga mencemarkan lingkungan yang membawa kita pada global warming. Macet juga membuat emosional seseorang meningkat, bahkan tak jarang karena terlalu kesal, emosi akan meledak-ledak dan menyebabkan keributan serta perkelahian akibat tidak adanya sikap mengalah antara satu sama lain saat berkendara. Yang paling fatal adalah apabila banyak kendaraan yang bentrok bertemu di persimpangan tetap memaksa untuk berjalan sehingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, tetapi juga akan membahayakan orang lain.

7.      Pendapat                          :

                        Menurut saya fenomena macet merupakan salah satu di antara masalah sosial yang sering terjadi di Makassar dan kota-kota besar lainnya yang secara umum disebabkan oleh jumlah volume kendaraan yang semakin meningkat dan tak terkendali, para pengendara yang tidak mematuhi tata tertib lalu lintas, adanya parkir-parkir liar yang ada di badan-badan jalan, adanya pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan, jalan rusak dan berlubang, dan masih banyak lagi penyebab kemacetan-kemacetan yang lain.

                        Jika kita melihat dari kacamata psikologi sosial sebagai contoh modern dari gejala The Tragedy of the Commons (Tragedi Bersama) yang dikemukakan oleh Garret Hardin (1968) maka setiap pengendara yang (1) berupaya untuk mencari jalan pintas atau jalan tercepat, (2) tidak mau berkorban untuk melalui jalan dengan rute normal atau yang agak lebih panjang, (3) mencoba mengambil keuntungan dengan melanggar lampu lalu lintas saat tidak ada polisi yang mengawasi, (4) “tidak mau rugi” dengan menggunakan setiap ruas jalan apapun yang bisa digunakan (termasuk trotoar pejalan kaki) untuk dilalui atau pun untuk tempat parkir, (5) setuju untuk memanfaatkan jasa pungli (pungutan liar) untuk mempercepat waktu tempuh, demikian juga (6) penggunaan kendaraan individual yang bersifat masif (tidak

mau beralih menggunakan transportasi masal umum) sementara tidak selalu ada pertambahan jalan, (7) supir angkutan umum yang ngetem beberapa saat untuk mencari penumpang, maupun (8) calon penumpang yang memberhentikan kendaraan umum bukan di halte yang semestinya, sesungguhnya telah bersama-sama “berkonspirasi” untuk menjamin waktu tempuh berkendara yang lebih panjang bagi setiap orang.

                        Selain itu, adanya sifat egoisme pada diri pengguna jalan turut mendukung terjadinya kemacetan. Rachels (2004) menyebutkan egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang boleh saja yakin pada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi. Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri.

                        David Moxon, kepala psikologi dari Peterborough Regional College menyebutkan bahwa jalan yang macet bisa mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang, salah satunya adalah traffic stress syndrom atau TSS (sindrom stres akibat macet). Moxon mengungkapkan kemacetan lalu lintas seperti fenomena bom waktu bagi penderita TSS. Biasanya ia akan mempercepat kecepatannya saat ada kesempatan dan terkadang mengabaikan peraturan yang ada sehingga berisiko mengalami kecelakaan. Gejala yang dialami oleh seseorang dengan TSS termasuk:

1.      Peningkatan detak jantung

2.      Sakit kepala

3.      Telapak tangan berkeringat

4.      Mual

5.      Pusing

6.      Kram perut

7.      Mudah tersinggung dan marah

8.      Khawatir

Selain itu, Peneliti di Boston mengungkapkan paparan asap knalpot dan partikel-partikel dari polusi bisa menyebabkan peradangan di bagian-bagian tertentu otak yang bisa memicu Alzheimer, gangguan memori dan Parkinson.

Dapat dilihat betapa besar dampak dari kemacetan dan solusi yang paling tepat mungkin adalah dengan kita merubah diri masing-masing, meninggalkan ego untuk menang sendiri ketika melintas di jalan raya. Jangan menjadikan rambu-rambu lalu lintas hanya sebagai aksesoris yang menghiasi jalan raya, tetapi kita wajib memahaminya serta mentaatinya.

Dan solusi lain yang saya tawarkan kepada pengguna jalan, ketika cukup jalan kaki kenapa harus naik motor? Ketika cukup naik sepeda kenapa harus naik mobil? kenapa tidak menggunakan transportasi umum yang disediakan pemerintah? dan berhenti menyalahkan pemerintah, mari berbenah diri bersama-sama. Seandainya 1% dari pengguna jalan raya sadar diri mungkin akan berpengaruh besar. Inilah konsep sederhana yang saya tawarkan kepada pengguna jalan raya, kosep ini saya sebut dengan KONSEP SADAR DIRI.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : http://www.catatankhaerunnisaa.wordpress.com

 Ingat etika dalam mengcopy ya :) selalu cantumkan sumber tempat anda mengcopy

Categories: IPS II, kampus, Semester 3, the orange campus | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: