Tugas Kuliah Pendidikan Agama Islam : PERNIKAHAN

Berikut ini adalah salah satu tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam (salah satu mata kuliah umum pada semester I) dengan dosen pengampu H. Amri Rahman, Lc., M.Pd.I

Bagaimana pandangan Islam tentang nikah mut’ah dan nikah sirri? Lalu bagaimana pendapat saudara?

1. Nikah mut’ah

Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu:

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata:

“Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Namun pada zaman sekarang nikah mut’ah sudah tidak diperbolehkan lagi sebagaimana penjelasan yang terdapat dalam hadits-hadits berikut ini :

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang menikahi perempuan dengan mut’ah dan memakan keledai negeri pada waktu perang khaibar. (Riwayat Imam Tujuh kecuali Abu Dawud).

Dari Rabi’ Ibnu Saburah, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku dahulu telah mengizinkan kalian menikahi perempuan dengan mut’ah dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan cara itu hingga hari kiamat. maka barangsiapa yang masih mempunyai istri dari hasil nikah mut’ah, hendaknya ia membebaskannya dan jangan mengambil apapun yang telah kamu berikan padanya.” (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Adapun pendapat dari kelompok kami mengenai nikah mut’ah sekarang ini yaitu kami tidak setuju jika ada yang melakukannya. Karena nikah mut’ah hanya berlaku atau diperbolehkan pada awal tegaknya Islam dan sekarang Allah Subhana Wa Ta’ala telah mengharamkannya sebagaimana yang terdapat pada hadits-hadits tadi. Selain itu, bila kita renungkan secara seksama hakikat dari nikah mut’ah, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi atau bisa juga disebut penghalalan zina dengan berkedok agama seperti yang dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terhadap nikah mut’ah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no. 5119.

Sumber : Bulughul Maram Min Adillatil Ahkaam karya Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani

www.salafy.or.id

2. Nikah sirri

Nikah sirri dalam perspektif ulama fiqih , menurut pengertian mereka, nikah sirri adalah pernikahan yang ditutup-tutupi. Ia berasal dari kata as-sirru yang bermakna rahasia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“…. dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia” (Al-Baqarah:235)

Pernikahan sirri juga didefinisikan sebagai pernikahan yang diwasiatkan untuk disembunyikan [1], tidak diumumkan [2]. Oleh karena itu, nikah sirri adalah pernikahan yang dirahasiakan dan ditutupi, serta tidak disebarluaskan.

Menurut pandangan ulama, nikah sirri terbagi menjadi dua yaitu :

Pertama, dilangsungkannya pernikahan suami istri tanpa kehadiran wali dan saksi-saksi, atau hanya dihadiri wali tanpa diketahui oleh saksi-saksi. Kemudian pihak-pihak yang hadir (suami-istri dan wali) menyepakati untuk menyembunyikan pernikahan tersebut.

Menurut seluruh pandangan ulama fiqih, pernikahan yang dilaksanakan seperti ini batil. Lantaran tidak memenuhi syarat pernikahan, seperti keberadaan wali dan saksi-saksi. Ini bahkan termasuk nikah sifaah (perzinaan) atau ittikhaadzul-akhdaan (menjadikan wanita atau lelaki sebagai piaraan untuk pemuas nafsu) sebagaimana disinggung dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“…. bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya…..” (An-Nisaa:25)

Adapun bila dua saksi telah berada di tengah acara, menyertai mempelai lelaki dan perempuan, sementara itu pihak wali belum hadir, kemudian mereka bersepakat untuk menutupi pernikahan dari telinga wali dan masyarakat,  ini juga termasuk penikahan sirri yang batil. Karena tidak memenuhi syarat mengenai keberadaan wali.

Kedua, pernikahan terlaksana dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang terpenuhi, seperti ijab, qabul, wali, dan saksi-saksi. Akan tetapi, mereka (suami, istri, wali, dan saksi) satu kata untuk merahasiakan pernikahan ini dari telinga masyarakat atau sejumlah orang. Dalam hal ini, sering kali pihak mempelai lelakilah yang berpesan supaya dua saksi menutup rapat-rapat berita mengenai pernikahan yang terjadi.

Dalam masalah ini, para ulama rahimahullah berselisih pendapat. Jumhur ulama rahimahullah memandang pernikahan seperti ini sah, tetapi hukumnya dilarang. Hukumnya sah, resmi menurut agama, karena sudah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat disertai keberadaan dua saksi sehingga unsur “kerahasiaannya” hilang. Sebab, suatu perkara yang rahasia, jika telah dihadiri dua orang atau lebih, maka sudah bukan rahasia lagi. Semakin banyak yang mengetahui , maka semakin afdhal. Oleh karena itu, dimakruhkan merahasiakan pernikahan supaya pasangan itu tidak mendapatkan gunjingan dan tuduhan tidak sedap (seperti kumpul kebo, misalnya), ataupun persangkaan-persangkaan yang buruk [3].

Sementara itu, dalam pengertian masyarakat, nikah sirri sering disebut “menikah di bawah tangan”. Namun, lenih diarahkan pada pernikahan yang tidak menyertakan petugas pencatat nikah (misalnya KUA) untuk mencatat pernikahan tersebut dalam dokumen negara. Akibatnya, kedua mempelai tidak mengantongi surat nikah dari pihak yang berwenang. Ditinjau dari kaca mata Islam, bila rukun-rukun dan syarat-syarat nikah telah terpenuhi, maka pernikahan itu sah secara hukum. Hak-kewajiban suami-istri sudah mulai berlaku sejak akad nikah yang sah itu.

Akan tetapi, menurut kami, secara administratif, kekuatan hukum nikah sirri kurang kuat. Kemungkinan akan menimbulkan dilema dan menyisakan sejumlah permasalahan, cepat atau lambat. Bila dikemudian hari ternyata terjadi permasalahan, seperti cerai atau suami meninggal dunia, dengan pernikahan yang tanpa tercatat dalam dokumen resmi, maka menyebabkan posisi wanita dalam masalah ini lemah, karena ia tidak memegang dokumen pernikahan resmi (surat nikah). Sehingga sangat mungkin statusnya sebagaiakibat dari “kerahasiaan perkawinan mereka”. Bahkan mungkin saja disebut sebagai wanita simpanan.

Masalah lain yang mungkin muncul, berkaitan dengan akte kelahiran yang keberadaannya cukup penting bila anak-anak akan sekolah. Sementara pihak berwenag tidak akan mengeluarkannya, jika kita mampu tidak mampu menunjukkan surat perkawinan yang resmi dikeluarkan negara. Demikianlah dalam konteks kewarganegaraan. Secara singkat dapat kita simpulkan, nikah sirri, memiliki potensi bahaya yang sangat jelas.

Footnontes : [1] Syarhuz-zarqaani ‘Alal-Muwaththa (3/188)

[2] At-Ta’aarif, hlm. 710

[3] Penjelasan ini dikutip dari az-Zawaajul-‘Urfi, Dr. Ahmad bin Yusufbin Ahmad ad-daryuyisy, Daarul- ‘Aashimah, Riyaadh, hlm 94-97

Sumber : www.salafiyunpad.wordpress.com yang disalin dari www.almanhaj.or.id

Bagaimana hakekat poligami dalam Islam?

Hakekat poligami dapat dilihat pada Q.S. An Nisaa’ : 3, dimana ayat tersebut menyebutkah :

“….. maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang memiliki hak setengah dari suami (karena suami memiliki dua istri), atau sepertiga atau seperempat (karena ada 3 atau 4 istri), itu lebih baik daripada wanita yang tidak memiliki suami. Akan tetapi dengan syarat harus ada keadilan dan kemampuan.

Bagi yang khawatir tidak bisa berbuat adil, maka mencukupkan diri dengan satu istri. Ini semua ditunjukkan dan ditegaskan dengan perbuatan Nabi dimana beliau ketika meninggal dunia masih memiliki 9 istri, sementara Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)

Namun beliau telah menjelaskan kepada umatnya bahwa tidak boleh bagi seorang pun dari umatnya dalam satu waktu memiliki lebih dari 4 istri.

Jadi, Poligami ini disunnahkan bila seorang laki-laki dapat berbuat adil di antara istri-istrinya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja” (QS. An Nisa: 3)

Dan juga bila ia merasa dirinya aman dari terfitnah dengan mereka dan aman dari menyia-nyiakan hak Allah dengan sebab mereka, aman pula dari terlalaikan melakukan ibadah kepada Allah karena mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya istri-istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian maka berhati-hatilah dari mereka”. (QS. At Taghabun: 14)

Di samping itu ia memandang dirinya mampu untuk menjaga kehormatan mereka dan melindungi mereka hingga mereka tidak ditimpa kerusakan, karena Allah tidak menyukai kerusakan. Ia mampu pula menafkahi mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Hendaklah mereka yang belum mampu untuk menikah menjaga kehormatan dirinya hingga Allah mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-Nya” . (QS. An Nur:33)

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i pernah ditanya tentang hukum poligami, apakah sunnah? beliau menjawab: “Bukan sunnah, akan tetapi hukumnya jaiz (boleh)”.

Namun yang perlu kita ketahui juga bahwa, seorang suami tidak disyari’atkan mendapat ridha istri pertama ketika akan berpoligami. Hal seperti ini pernah ditanyakan pada Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta, dan jawabannya sebagai berikut :

Tidak wajib bagi suami bila ingin menikah dengan istri kedua harus ada keridhaan istri pertama.

Akan tetapi termasuk dari akhlak yang baik dan pergaulan yang harmonis untuk menjadikan senang hati istri pertama dengan cara meringankan baginya hal-hal yang bisa menyakitkan, yang ini termasuk dari tabiat wanita dalam permasalahan poligami. Caranya yaitu dengan wajah yang berseri-seri, ucapan yang manis, dan dengan hal-hal yang bisa memudahkan keadaan, seperti pemberian sejumlah barang untuk mendapatkan ridhanya. Wallahu A’lam.

Sumber :      Fatwa-Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seputar Pernikahan. Terjemah kitab : Fatawa  Al  Jami’ah  Lil Mar’atil Muslimah. Bab Nikah     Wathalaq.

Kitab  Al Intishar lihuhuqil Mu’minat. Karya : Ummu Salamah As Salafiyyah.   Telah     diterjemahkan dengan  judul buku : Persembahan untukmu Duhai Muslimah.

www.darussalaf.or.id

Bagaimanakah pandangan Islam tentang nikah lintas agama?

Pandangan Islam mengenai hal tersebut dapat dilihat pada firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Al Maidah ayat 5 :

“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian perkara-perkara yang baik dan sembelihan Ahlul Kitab halal bagi kalian dan sembelihan kalian halal bagi mereka begitu pula Al-Muhshanat (wanita merdeka yang menjaga kehormatan) dari kaum mukminat dan Al-Muhshanat dari Ahlul Kitab sebelum kalian (halal bagi kalian) jika kalian memberikan maharnya (dengan pernikahan).”

Jumhur ulama mengatakan bahwa ayat ini umum mencakup siapa saja yang memeluk agama Yahudi atau Nashrani, baik dari kalangan Bani Israil ataupun yang lainnya, apakah dia mengikuti agama Yahudi atau Nashrani yang murni dan mentauhidkan Allah ataukah mengikuti yang sudah mengalami perubahan dan mempersekutukan Allah, maka semuanya termasuk dalam kategori Ahlul Kitab tanpa pengecualian.

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir (2/15), Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Taisirul Karimir Rahman (hal. 221-222) Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/218), dan pendapat ini yang rajih (kuat) insya Allah.

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan Al Muhshanat dalam ayat di atas:

  1. Yang dimaksud adalah afifah (yang menjaga diri dari perbuatan zina) maka tidak boleh menikahi wanita-wanita fajir yang tidak menjaga diri dari perzinaan. Jadi masuk di dalamnya seluruh Ahlul Kitab baik merdeka atau budak asalkan dia afifah. Ibnu Jarir menukilkan pendapat ini dari beberapa ulama Salaf (lihat Fathul Qadir).
  2. Yang dimaksud adalah wanita-wanita merdeka (bukan budak). Ini adalah pendapat jumhur, sebagaimana disebutkan dalam Fathul Qadir dan dirajihkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Mereka berdalilkan dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 25: “Dan barang siapa di antara kalian (orang merdeka) tidak memiliki kesanggupan harta untuk menikahi wanita merdeka yang beriman maka boleh bagi kalian untuk menikahi budak-budak wanita yang beriman di antara kalian.”

Sisi pendalilannya adalah ketika Allah mengizinkan seorang lelaki merdeka untuk menikahi budak wanita dengan dua syarat, yaitu dia tidak memiliki kesanggupan harta untuk menikahi wanita merdeka sementara dia takut terjatuh dalam perzinaan dan ia merasa berat untuk bersabar atas jima’ (hubungan suami istri) sebagaimana disebutkan dalam akhir ayat. Maka Allah membatasinya dengan budak wanita yang beriman. Ini berarti budak wanita dari kalangan Ahlul Kitab tidak boleh dinikahi karena mereka tidak beriman. Jumhur ulama juga mensyaratkan sifat iffah (menjaga kehormatan) berdasarkan firman Allah:

“Lelaki pezina tidak akan menikahi kecuali wanita pezina atau wanita musyrik dan wanita pezina tidak akan dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina atau musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (An-Nur: 3).

Pendapat ini dirajihkan oleh As-Sa’di dan Al-Utsaimin dan inilah yang rajih, wallahu a’lam.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sail hal. 614-615 menegaskan bahwasanya wanita Ahlul Kitab yang dinikahi oleh seorang muslim tidak dituntut untuk mempelajari syariat Islam karena dia masih kafir.

Akan tetapi yang dituntut darinya adalah senantiasa memiliki iffah. Dinasehatkan bagi sang suami untuk mendakwahkan Islam kepada istrinya karena seorang suami memiliki pengaruh besar terhadap istri. Jika seorang istri terlanjur mencintai suaminya maka biasanya dia akan mengikuti kemauan suaminya.

Begitu pula, Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menasehatkan dalam Ijabatus Sail hal. 531, bahwasanya seorang muslim harus berhati-hati jika hendak menikahi Yahudiyyah atau Nashraniyyah. Apabila di negeri itu Yahudi atau Nashara lebih berpengaruh, dikhawatirkan istrinya akan mempengaruhi anak-anaknya untuk memeluk agama Yahudi atau Nashara.

Dan saya (penulis) tambahkan: Atau bahkan dirinya yang dipengaruhi oleh istrinya karena lemahnya iman dan ilmu yang dimilikinya.

Catatan: Hukum ini tidak berlaku sebaliknya. Wanita muslimah yang menikah dengan pria kafir hukumnya telah jelas, yakni haram.

Sumber : Penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang Bolehkah menikah dengan wanita-wanita  dari kalangan Ahlul Kitab?

www.asysyariah.com

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : http://www.catatankhaerunnisaa.wordpress.com

 Ingat etika dalam mengcopy ya :) selalu cantumkan sumber tempat anda mengcopy

Categories: Pendidikan Agama Islam, semester 1, the orange campus | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: