Krisis Pendidikan Mengarah pada Krisis Kehidupan

Krisis Pendidikan Mengarah pada Krisis Kehidupan

oleh :

Widya Karmilasari Achmad*

Judul diatas membawa kita pada sebuah perenungan tentang kesadaran (awareness) kita sebagai manusia untuk melihat betapa pentingnya Pendidikan bagi manusia. Saya percaya bahwa krisis Pendidikan merupakan awal dari segala krisis di segala aspek kehidupan. Seperti yang kita alami di negara kita Indonesia, krisis multi dimensi. Ketidak jelasan (obscurity) akan segala sesuatu (ketidak jelasan Ekonomi, Hukum, Kesejahteraan, kebijakan) membawa bangsa kita pada titik ketidak percayaan (krisis kepercayaan) kepada para pemimpin dan pelaksana kebijakana negara kita. Kejujuran menjadi barang mahal, langka dan sangat sulit ditemui ditengah bangsa ini.

Berikut ini akan saya tuliskan kisah tentang Lamanussa’ Toakkarangeng yang dapat menjadi bahan perenungan dan refleksi bagi kita tentang sikap dan nilai yang telah dianut oleh orang-orang terdahulu kita. Kisah Lamanussa’ Toakkarangeng menghadirkan betapa dalam kesan nilai kejujuran pada diri pribadi. Dikisahkan pada waktu rakyat Soppeng mengajukan kesepakatannya untuk meminta kesediaan beliau menjadi Datu Soppeng, berkali kali ditolaknya sambil menyatakan supaya mencari orang lain selain dari pada dirinya. Dikisahkan pada akhirnya Lamanussa’ Toakkarangeng harus menerima, tetapi dia meminta waktu untuk pergi berguru (mencari ilmu/proses pendidikan), mencari bekal keilmuan bagi kepentingan pelaksanaan amanah rakyat Soppeng. Dari sikap Lamanussa’ Toakkarangeng terlihat bagaimana dia tidak merasa rendah buat menyatakan kekurangannya di hadapan rakyat Soppeng yang telah meyakini kelebihan dan kemampuannya. Sikap dari Lamanussa’ Toakkarangeng dikatakan berendah hati namun sikap itu lahir dari nilai kejujuran bercampur dengan keilmuan dan kepatutan. (Andi Zainal Abidin, Persepsi Orang Bugis, Makassar tentang Hukum, Negara dan Dunia Luar.1983)

Dari kisah diatas, terlihat bagaimana nilai yang tinggi dianut oleh Lamanussa’ Toakkarangeng sebagai manusia yang berilmu (berpendidikan), dengan modal kejujurannya (di awal) dia telah menempuh (proses) kehidupan dengan penuh kesabaran dan menghasilkan moral ikhlas pada akhirnya (produk akhir). Bagaimana dengan ikhlasnya dia menuntut ilmu bagi kepentingan pelaksanaan amanah rakyat Soppeng. Bagaimana dengan jujur dia menyatakan kekurangannya, dan dengan sabar menjalani semua hal tersebut, yang bukan hanya untuk dirinya sendiri secara pribadi tetapi untuk orang banyak.

Bagaimana dengan pemimpin kita saat ini? Adakah kesan nilai kejujuran pada diri pribadi dari pemimpin kita saat ini? Menjawab pertanyaan ini, kita awali dengan fenomena yang terjadi pada abad ke 21. Suhartono (21:2007) menyampaiakan fenomena politik di abad 21:
Abad ke 21 ditandai dengan kesenangan berlebihan (euforia) terhadap perilaku politik “demokratis”. Menurut gejalanya eforia politik ini hanya sekedar permainan para performan. Dengan berdalih demokrasi, George W.Bush memberantas terorisme dengan cara invasi militer ke Irak; di Senayan sering terjadi “money polotics” dalam berdemokrasi; dengan dalih hukum, asas praduga tak bersalah, lembaga Penegak Hukum tidak berdaya memberantas korupsi; dan sebagainya.

Fenomena yang terjadi di abad 21, adalah bentuk dari pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi sebagai wujud dari kedinamisan manusia dan masyarakat. Bagaimana dengan pemimpin di abad ini? Apakah nilai kejujuran pada diri pribadi dari pemimpin kita saat ini lebih baik dari nilai pribadi pemimpin dimasa lalu? Atau semakin tidak lebih baik? Padahal jika kita merujuk pada perkembangan pendidikan saat ini, tentulah tidak akan kita sebandingkan dengan pendidikan di masa lalu. Dimana perkembangan pendidikan pada saat ini sangat luar biasa cepat dan luasnya. jika kita menggambarkan bagaimana ilmu dalam pendidikan itu seperti ruang tanpa batas. Tetapi apa yang kita lihat? Apakah pemimpin saat ini masih memiliki nilai kejujuran pada diri pribadi? Apakah yang mereka lakukan?

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kajaolaliddong (Cendekiawan Bone) ketika ditanya oleh Raja Bone mengenai pokok pangkal keilmuan (Kejujuran). Apakah saksinya atau buktinya kejujuran? Maka jawaban dari Kajaolaliddong ialah; jangan mengambil tanaman yang bukan tanamanmu; jangan mengambil barang-barang yang bukan barang-barangmu, bukan juga pusakamu; jangan mengeluarkan kerbau (dari kandangnya) yang bukan kerbaumu, juga kuda yang bukan kudamu; jangan ambil kayu yang disandarkan, bukan engkau yang menyandarkannya; jangan juga kayu yang sudah ditekak ujung pangkalnya yang bukan engkau menetaknya. (Rahim 2011).

*Ketua UPP PGSD Bilingual, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar

 

Categories: cuap-cuap | Tags: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: