Saya dan Bipolar

Bismillah

Postingan kali ini akan bercerita mengenai bipolar yang saya idap. Sebenarnya sudah lama saya ingin memposting mengenai hal ini namun saya masih belum berani. Hal yang paling saya takutkan ketika memposting artikel ini adalah ditinggalkan. Ya, kami Orang Dengan Bipolar (ODB), sebutan untuk orang yang mengidap bipolar, sangat takut dengan namanya ditinggalkan.

Gejala bipolar mulai muncul sejak kecil namun saya baru didiagnosis bipolar pada Januari lalu ketika ke psikiater. Ketika masih kecil hidup saya susah, tapi bukan secara finansial melainkan secara psikis akibat perceraian orang tua saya. Mungkin itulah penyebab gejala bipolar mulai muncul. Sejak kecil saya belajar menekan emosi saya and now it turns into depressions. Terkadang saya tiba-tiba merasa sangat sedih dan saya tidak tahu mengapa. I don’t have definite answer.

Saya tidak pernah menyangka akan mengidap bipolar hingga pada 05 Januari lalu saya memutuskan untuk ke psikiater. Tidak mudah bagi saya untuk ke psikiater, saya sangat takut dengan anggapan orang-orang yang berpikir orang “gila” yang pergi berobat ke psikiater, namun dengan dorongan sahabat lah akhirnya saya memutuskan untuk pergi. Setelah ke psikiater akhirnya sampai sekarang ini saya berkenalan dengan berbagai macam obat seperti alprazolam, risperidone, fluoxetine dan carbamazepine.

Awalnya saya mengira hanya butuh sekali saja ke psikiater tapi ternyata tidak. Pada konsultasi pertama saya diminta lagi kembali seminggu kemudian, konsultasi kedua diminta lagi kembali dua minggu kemudian, hingga akhirnya konsultasi ketiga dokter menyatakan saya mengidap bipolar. Ketika mendengar hal tersebut, saya tidak kaget, malah senang, akhirnya saya tahu penyakit yang saya derita. Sebelumnya saya sudah membekali diri dengan berbagai informasi mengenai bipolar dan borderline personality disorder. Sebelum dinyatakan bipolar, saya dulu mengira diri saya mengidap borderline personality disorder.

Jika kalian ingin tahu bagaimana rasanya menjadi bipolar, hal ini terasa seperti bermain roller coaster yang berada di puncak (mania) lalu meluncur dengan cepat ke bawah (depresi). Saat berada pada fase mania, kamu akan sangat bersemangat, energi terasa tiada habisnya namun ketika berada fase depresi, kamu akan merasa sangat sedih, ya… sedih yang sangat dalam, bahkan niat untuk bunuh diri sering muncul. And mostly I feel very sad, afraid, hopeless, in pain, empty and alone. Mungkin kamu berpikir semua orang merasakan hal tersebut, bahagia dan sedih, tapi kami ODB merasakannya 1000 kali lebih dalam dan perubahannya sangat cepat.

Hal yang paling saya takutkan dari bipolar adalah tidak bisa menahan diri dari self harm. Ya…. I do self harm. I starve myself, I hit myself, etc. Ketika masih kecil saya terkadang berpikir untuk bunuh diri dan sampai sekarang pikiran tersebut masih muncul, bahkan bisa seharian. It’s something I struggle to overcome. I have to fight myself not to hurt myself, not to do self harm.

Hal kecil bisa memicu mood swing saya. Jika sudah kambuh apalagi pada fase depresi, saya hanya bisa menangis, cry like a river. Saya bisa menangis berjam-jam, i feel emotions much stronger and deeper than most and the after effects of the emotions can last for very long periods of time.

Saya pernah melihat gambar yang isinya,

“In my opinion true recovery isn’t just about taking medication and having a few therapy sessions. Recovery comes from a combination of things, including a good support network and a strong desire to trully be well.”

Ya… kami ODB membutuhkan support, namun sayang hal itu belum saya rasakan di keluarga saya, ketika kambuh hal yang saya butuhkan terkadang hanya pelukan namun itu tidak saya dapatkan. Hal tersebut membuat fase depresi yang saya rasakan semakin dalam.

Hidup dengan bipolar memang tidaklah mudah, saya dituntut untuk terus bisa survive di tengah kehidupan yang penuh stressor dan harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk memahami dan menerima perubahan mood yang tidak bisa dibayangkan rasanya oleh orang-orang normal. Terkadang saya ingin tidur saja sepanjang hari karena terlalu takut menjalani hari. Saya tidak tahu apakah hari itu akan berada pada fase mania atau fase depresi.

Saya tidak pernah meminta untuk menjadi ODB. Saya tidak suka hidup dengan bipolar tapi saya harus menerimanya, saya berbeda. Dunia terkadang menjadi tempat yang kejam. Orang-orang tidak begitu baik pada orang lain yang “berbeda”. Walaupun saya “berbeda”, I’m a functioning adult. It’s just hard to be me. Saya pernah membaca sebuah paragraf yang sedikit bisa menggambarkan apa yang dirasakan para ODB, yang membuat saya semakin berusaha untuk kuat, yaitu:

“Teman, ketahuilah kami tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang membuat jiwa kami terganggu, pun ini bukan keinginan kami untuk menderita gangguan jiwa. Mungkin bagi kalian sangat mudah mengendalikan diri dan mood jika kalian berpikir dari sisi kenormalan kalian. Tapi kami berbeda, bagi kami yang memiliki gangguan jiwa, hal itu sungguh sangat berat dan menyesakkan. Kami membutuhkan dukungan, pengertian dan pelukan dari kalian untuk meyakinkan diri kami bahwa kami tidak sendiri menghadapi ini semua. Kami ingin bangkit dari depresi dan merasakan indahnya dunia seperti kalian. Kami berjuang keras untuk sembuh, kami juga ingin seperti kalian yang normal. Tapi kami butuh proses. Semoga kalian bisa mengerti dan tolong jangan hakimi kami.”

Ketakutan saya ketika ada orang yang mengenal saya dan membaca postingan ini adalah dia akan meninggalkan saya. So, if you know me, do you want to leave me or stay beside me?

Categories: cuap-cuap | Tags: , , , , , , | 6 Komentar

Navigasi pos

6 thoughts on “Saya dan Bipolar

  1. A Beautiful Me

    Are u sure with your disorder baby??

  2. capilaDesign

    smngad adek… tegar diats ujian hidup!

  3. ^^ sebuah perbedaan yang terkadang membuat seseorang itu “lebih menarik”
    hal yang pergi akan digantikan dengan yang lebih baik kak
    Syafakillah
    la baa sa thohurun insyaa Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: